Sabtu, 20 Agustus 2016

Godaan Taaruf #2

Senja di hari jumat. Mendung bercampur kabut, Sismi mengayuh sepeda pancalnya dengan tergesa. Jarak untuk mencapai rumahnya masih 1,5 km lagi. Raut gelisah menghiasi wajah ayunya yang berbalut jilbab hijau lumut. Jemuran di teras belakang rumah belum di angkat. Ditambah kilatan-kilatan peristiwa yang baru saja berlalu 10 menit yang lalu.

"Nanti kalau kità ditakdirkan berjodoh, saya ingin kamu ikut denganku, ke rumah keluarga kami", ujar lelaki berdasi yang duduk di depannya.

"Saya belum siap meninggalkan rumah, saya hanya gadis yatim piatu yang tinggàl dengan nenek yang sudah mulai pikun. Saya tidak mungkin meninggalkan beliau", jawab Sismi lirih.

Lelaki berdasi itu menarik nafas panjang. Sismi terdiam. Sepasang suami istri, Pak Hardi dan Bu Hasna yang menjadi perantara pertemuan mereka saling berpandangan.

Pertemuan yang dirancang di rumah keluarga Bu Hasna, seniornya mengajar di sebuah Taman Pendidikan Qur'an itu berlangsung singkat. Hanya kurang lebih 20 menit.

Sismi masih belum bisa melupakan keterkejutannya saat dipertemukan dengan putra seorang pengusaha muda. Dia langsung merasa ciut nyali saat bertemu dengannya. Bagaimana mungkin seorang Sismi yang hanya guru ngaji sederhana lulusan universitas lokal bersanding dengan pemuda bergelar master lulusan Singapura

Sepanjang perjalanan pulang Sismi banyak berfikir, tentang hal-hal yang mungkin dan tidak mungkin. Tentang dirinya, tentang neneknya, tentang pemuda itu dan latar belakang keluarganya. Hingga hatinya yakin pada sebuah jawaban. Dia ingin segera sampai di rumah dan mengabari Bu Hasna.

Sampai di rumah, Sismi langsung buru-buru ke teras belakang. Tampak neneknya yang sudah sepuh sedang bersusah payah mengambil jemuran.

"Mbah, Sismi mawon", ujarnya sambil memeluk neneknya dari belakang. Matanya gerimis memandang neneknya yang semakin sepuh. Wanita yang merawatnya sejak usia 12 tahun, semenjak kedua orangtuanya yang berangkat bekerja di Malaysia dikabarkan meninggal akibat kecelakaan, seminggu setelah menginjakkan kaki di negeri jiran itu. Hatinya semakin yakin pada sebuah keputusan.

Usai sholat isya', Sismi menambah 2 rakaat untuk meyakinkan hati. Menyampaikan kegundahannya kepada Robbnya. Memohon kekuatan atas keputusan yang akan diberikan.

"Assalamu'alaikum. Bu, mohon maaf. Saya mundur saja", ujarnya dalam sebuah sms.

Kemudian ponselnya berdering, telepon dari Bu Hasna.
"Kenapa, nduk?. Fikri pemuda yang baik dan sopan, berpendidikan, shalih. Soal urusan tempat tinggal nanti bisa dibicarakan lagi, pasti ada solusinya. Dia tadi bilang ke Pak Hardi kalau dia merasa cocok dengan kamu".

"Maaf bu, sungguh saya merasa canggung. Saat saya di tengah-tengah keluarganya nanti, saya pasti akan seperti itik buruk rupa di negeri para bangsawan", jawab Sismi.

"Huss, ojo ngomong begitu to nduk. Aku kenal Fikri, dia murid ngajinya suamiku. Dia pemuda sederhana meski dari keluarga berada". Sambung Bu Hasna.

"Saya sudah istikharah bu, hati saya sudah mantab untuk mundur saja", lanjut Sismi tenang.

Terdengar Bu Hasna menarik nafas panjang.

"Ya wis, aku tak rembugan dhisik karo suamiku". Kemudian Bu Hasna menutup telepon.





*Diana Dee yang fakir ilmu 21082016

Dikisahkan dari cerita beberapa teman yang diceritakan ulang dengan sedikit gubahan, dengan nama yg bukan sebenarnya.





Tidak ada komentar: