Jumat, 09 September 2016

Super Hero-ku dan Super Duper Hero-ku

Bapakku adalah superhero, buatku.
Tapi ibuku lebih lagi, beliau adalah super duper hero.

Memandangi beliau terlelap di pagi ini, terlintas banyak peristiwa heroik bersama beliau di masa dulu. Di antaranya saat aku masih kelas 2 smp. Seperti biasa, saat pagi sebelum berangkat, bapak berpesan pada masku, seperti pagi itu: "le, adikmu ngko ekskul pramuka. mulihe entenono, ojo mok tinggal".

"nggih,". jawab masku singkat, kami cium tangan bapak ibu, lalu berangkat. Aku dibonceng masku dengan motor CB tua. Dan model berkendara masku yg pembalap mesti merepotkan aku, membuatku bingung harus duduk di boncengan sambil megangin rok dengan tangan kiri biar gak masuk rantai, dan tangan kanan memegang jilbab kuat-kuat biar tidak terbang dari kepalaku. Helm? entahlah, waktu itu menurut kami pake helm itu nggak keren. upssss, hehe. Toh, jalanan desa sepi. Jarang ada polisi patroli. Begitulah logika kami, logika anak SMP. Yang menganggap helm adalah penyelamat dari polisi, bukan untuk pengaman diri.

SMP sudah bermotor? koq boleh?. Ya, tidak ada pilihan lain. Jarak rumah kami ke satu-satunya SMP negeri di Kedungadem waktu itu 8 km. Seringnya kita naik onthel (sepeda pancal) sih, tapi dalam kondisi mendesak misal salah satu dari aku atau masku ada jadwal pulang sore, maka diijinkan bawa motor. Meski sebenarnya sekolah tidak mengijinkan. Apa boleh buat, dari pada ngonthel lalu nyampe rumah jelang isya'. Untuk itulah kemudian kami punya 'tempat parkir' untuk menyembunyikan motor.

Oke dilanjut lagi. Naas, hari itu habis eksul pramuka, jam setengah lima sore. Aku cari-cari masku tidak ada, kucari di tempat kami biasanya menyembunyikan motor, motornya pun sudah tidak ada. Aku panik, piye carane pulang? masa iya aku ditinggalin. Aku berjalan ke sana kemari nanya teman-teman, nanya pak bon. "masmu wis mulih nduk", kata pak bon. What??? lemes.

Lalu datanglah si 'A', teman kelas sebelah yang pernah kirim surat cinta padaku.. haha, jadi malu mengingatnya. Dia tulis surat cinta dan dimasukkan ke laci mejaku  si kelas. Tapi keluguanku membuat surat itu tidak terbaca olehku, tp oleh temanku. Surat cinta yang bau harum kertasnya menyengat dan bahkan sampai saat SMA masih kuingat baunya.

"pulang bareng aku aja, tak anter ke rumah paklikmu di drokilo", tawarnya sok perhatian atau entah perhatian beneran. "enggak, terimakasih", jawabku singkat.

Aku merogoh kantong jaketku, menemukan koin seratus perak. Lalu menuju telepon umum di seberang jalan. Mencoba menelepon ke rumah. Yang ngangkat masku. Whattttt? dia di rumah. Aku panik, belum sempat ngomong apa-apa teleponnya sudah bunyi, "tuuut....tuuuut..tuuuuut", lalu terputus. kyaaaaaaaaaaaa. Lututku terasa lemas. Aku memutar otak, masa iya mau terima tawaran si A. "Enggak, tidak boleh". Kata bapak, tidak boleh pacaran. Nanti kalau diboncengin dia malah jadi gosip aku pacaran sama dia.

Sekolah makin sepi, tinggal tak lebih dari 20 atau 30 anak masih nongkrong-nongkrong di dekat gerbang. Ada si A juga. What? "apa dia menungguku?", ge er sedikit aku. Tapi rupanya tidak, haha. Beberapa menit kemudia dia pulang dengan teman-temannya. Tinggallah aku sendiri, terpekur di pinggir jalan sambil memainkan ranting yang berserakan. Membuat tulisan di atas tanah, "yaa Allah, aku mau pulang!", sambil menahan tangis. Tidak, tidak boleh menangis.

Aku berdiri, lalu mulai berjalan ke barat. Aku tahu itu konyol, mana mungkin jalan kaki sejauh 8 km?. Ah, whatever. Setidaknya aku berusaha untuk pulang. Aku berjalan dengan agak cepat, sambil bernyanyi-nyanyi lagu pramuka. "minggiro....
 minggiro.... minggiroo". Mengusir takut, ya takut. Jalan ke arah barat dari sekolahku adalah sawah, tak ada rumah sampai 1,5 KM  setelahnya.

Aku terus berjalan, sampai kurang lebih 1 KM jauhnya. Sampai kemudian ada suara klakson motor menghentikanku, ya suara klakson yang sangat ku kenal. Motornya masku. Aku mengangkat kepala, berharap masku menjemputku. dan....... ternyata bukan. dia ibuku..... ibuku.... iya benar dia ibuku.... aku langsung menghambur ke pelukannya, menangis, terisak.

"wis... gakpopo, ayo pulang!", jawab beliau. Aku naik ke boncengan, kami pulang. Aku pegangan erat, takut jatuh. Ibuku naik motornya gak kalah ngebut sama masku. Ya, ibuku memang aneh. Dia lebih mahir naik motor berkopling daripada motor bebek. Beliau memang terlahir jadi wanita super duper hero. Dibesarkan dalam suasana perang oleh kakekku yang seorang veteran. Terbiasa menjalani kehidupan yang keras. Pernah, kata beliau. Ibuku dan adiknya, om Nasir, harus menempuh jalanan berbahaya yang penuh ancaman partai komunis saat itu untuk mengirim logistik ke kakekku dan pasukannnya di tempat persembunyian. Mengingatkanku pada sosok Asma binti Abu Bakar, meski tak kan sebanding dengan sahabiyah itu. tetap saja bagiku, ibuku adalah super duper hero. Wanita tangguh yang pandai memasak.

Nanti, kapan2 ingin kutulis kisah perjalanan ibuku di masa mudanya.... :)


Diana Dee
Bojonegoro, 10 september 2016, 03.00 dini hari.

Tidak ada komentar: