Selasa, 12 Januari 2016

Berkah Keikhlasan

Kedua polisi itu sama-sama menyimpan kecemasan sekaligus keheranan. Mereka cemas, karena lelaki yang akan mereka gantung sekarang bukan lelaki biasa. Lelaki itu teramat berwibawa dengan imannya. Mereka juga heran, sebab sejak malam lelaki itu dibawa ke tempat peristirahatan tertentu sebelum digantung, ia selalu tersenyum. Senyumnya terlalu lebar untuk sebuah peristiwa paling mengerikan: hukuman gantung.
Mereka berdua masih cemas campur heran. Menjelang matahari terbit, perintah sang atasan mengharuskan kedua polisi itu menggantung lelaki itu. Tapi sampai detik itu, ia masih saja menyungging senyum. Ia seakan-akan menikmati saat-saat menegangkan itu. Ia nampak begitu rela, begitu menerima, begitu ikhlas. Tapi senyum itu seperti menyemburatkan kekuatan jiwa yang dahsyat.
Adalah dengan kehendak Allah itu terjadi. Senyum manis lelaki yang sedang menghadapi tiang gantungan itu, rupanya menyusupkan hidayah Allah dengan amat halus ke dalam hati kedua polisi itu. Mereka berdua memang menggantung lelaki itu. Tapi, dalam pengetahuan Allah, justru saat itu pulalah kedua polisi itu menggantung dosa-dosa masa lalunya. Mereka berdua menyatakan taubat.

Kisah di atas dimuat dalam sebuah buku kumpulan kisah orang-orang bertaubat dan kembali ke jalan Allah, al-‘aaiduuna ilallaah.
Ada banyak peristiwa dalam dalam kehidupan kita, di mana sikap-sikap imaniyah seperti keikhlasan, keteguhan, kebesaran jiwa dan lainnya, terungkap dalam perilaku, atau sorot mata, atau senyum. Sikap imaniyah itu tidak terungkap lewat kata. Sebab kata tidak selalu mewakili sikap jiwa bagi sebagian orang yang tidak amanah. Tapi dalam perilaku, sorot mata atau senyum, sebuah makna agung dari keyakinan keislaman kita, terwakili.
Saat-saat kita seperti itu, sering lebih menggugah dari seribu kata yang pernah kita ucapkan. Di situ makna yang terwakili lewat perilaku, sorot mata atau senyum atau lainnya, bagai angin sepoi yang dijadikan Allah sebagai kendaraan yang mengantar hidayah-Nya.
Dan keikhlasan, mungkin merupakan makna paling potensial untuk menggugah. Keikhlasan dalam artian yang hakiki, sesungguhnya merupakan pemahaman kita terhadap fikrah yang kita anut. Ada banyak jiwa dan hati yang tidak tersentuh oleh gemerlap kata, lebih dari itu ia tersentuh oleh cahaya keikhlasan jiwa. Sesungguhnya keikhlasanlah yang meniupkan ‘ruh’ kekuatan dan pesona pada kata, perilaku, sorot mata, dan senyum. Dan keikhlasan pulalah yang menyediakan kendaraan gaib yang akan mengantar hidayah Allah ke ruang jiwa manusia.
Kadang atsar (pengaruh) keikhlasan orang ikhlas itu tidak nampak di depan matanya sendiri, atau semasa ia hidup. Tapi terlihat justru setelah ia meninggal. Mungkin dengan cara begitu Allah hendak mempertahankan keikhlasan orang tersebut. Tapi dengan cara yang sama pula, Allah memupuk atsar keikhlasan itu. Sampai ketika atsar itu jadi gunung, dengan cara-Nya sendiri, Allah meledakkannya.
Sayyid Quthub, lelaki yang tersenyum menuju tiang gantung itu, mungkin tidak akan menduga kalau dengan senyumnya, Allah memberi hidayah kepada dua orang yang justru ditugasi membunuhnya. Mungkin juga beliau sering tersenyum semanis itu di hari-hari biasa. Namun tidak menyebabkan orang bertaubat. Tapi ketika keikhlasan terwakili oleh senyum, dan dalam momen-momen seperti itu, Allah memberkahinya dengan cara-Nya sendiri. [Anis Matta]
 
source; www.tarbiyah.net

Tidak ada komentar: